Ajang Sportfest Pertama dan Terbesar PRURide Indonesia 2019 Dimenangkan oleh Pasangan Suami-Istri

8 min read
0
41

Genpijogja.com – Ajang utama kompetisi balap sepeda PRURide 2019 dimenangkan oleh pasangan suami-istri Edi Pramono dan Sri Suyamti pada Minggu (8/12) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Uniknya, hal ini baru diketahui setelah pengumuman. Edi Pramono mengantongi juara sebagai Over All Winner Men dan Sri Suyamti sebagai Over All Winner Women. Tak hanya itu, Sri Suyamti juga menjadi juara dalam kategori Queen of Mountain.

PRURide 2019 menjadi sportfest pertama dan terbesar dari PT Prudential Indonesia dengan ajang utama kompetisi balap sepeda. Sejak Minggu dini hari, kompetisi balap sepeda PRURide 2109 diikuti oleh ribuan peserta yang memadati Stadion Mandala Krida. Ajang balap sepeda PRURide ini terdiri dari tiga kategori yaitu Grand Fondo (120 km) yang diikuti sebanyak 568 peserta, Medio Fondo (60 km) dengan 288 peserta dan Fun Ride (10 km) lebih dari 1.500 peserta.

Presiden Director Prudential Indonesia, Jens Reisch sangat bangga dan mengapresiasi even ini. “Terima kasih atas supportnya, komunitas di sini sangat mendukung. Kita bangga dapat mempromosikan kesehatan dan lingkungan yang sehat,” ungkap Jens saat pers konferen sore hari.

Hadir pula Luskito Hambali selaku Chief Customer dan Marketing Officer Prudential Indonesia yang menjelaskan tentang rute balap sepeda.

“Rute yang dilalui kali ini mempunyai beberapa tantangan yaitu Jalur Penggaris dan Tanjakan Panggang. Jalur Penggaris merupakan jalur yang lurus sepanjang 5 km di dekat pantai dengan angin yang kencang. Sedangkan Tanjakan Panggang merupakan jalur menanjak sepanjang 4 km dari ketinggian 300 mdpl hingga 420 mdpl. Lalu dihadapkan dengan turunan yang curam dan menikung sepanjang 10 km di kilometer 85-95,” jelas pria yang akrab dipanggil Kiki ini.

Sri Suyatmi yang berhasil dengan catatan waktu 3 jam 58 menit 34 detik pun mengakui rute kali ini cukup menantang. “Rutenya cukup menantang, waktu startcom matahari benar-benar berasa di atas kepala. Kemudian pas rolling tidak bisa dinikmati, jadi setelah nanjak kemudian keasyikan turun lupa ngerem, tadi juga ada temen yang hampir mau masuk jurang,“ paparnya.

Sedangkan Edi Pramono dengan catatan waktu 3 jam 24 menit 58 detik mengaku harus lebih stabil pada kecepatan. “Ketika rutenya sudah di luar kota Jogja speed di atas 50 km/jam terus. Saya sudah yakin menang saat di kilometer 75 karena hanya berdua dengan peserta lain,” ungkapnya.

Pasangan suami-istri ini pun mendapatkan hadiah masing-masing sebesar 10 juta rupiah dan dikirim untuk mengikuti ajang PRURide Philiphine pada Maret 2020 mendatang.
Atlet para-cycling Indonesia, Muhammad Fadli yang juga mengikuti ajang ini menyesal tidak bisa maksimal dikarenakan sempat jatuh saat startcom awal.

“Bahayanya kalau saat startcom para ratusan peserta ini tidak sengaja senggolan. Sayang sekali saya juga sempat jatuh dan sepeda saya rusak. Saya suah hampir putus asa karena lutut terluka dan tertinggal oleh pleton. Jadi saya melewati 120 km sendirian,” ungkap Fadli.

Seperti yang diketahui, ketika bersepeda dengan satu pleton akan lebih memudahkan kita mengayuh sepeda. Hal ini sangat membantu dan menguntungkan bagi para pesepeda. Harapannya effort pada kompetisi kali ini apat memotivasi di kompetisi selanjutnya.

PRURide Indonesia 2019 memang sudah dilaksanakan selama dua hari 7-8 Desember 2019. Selain ajang balap sepeda PRURide Indonesia 2019 juga memberi keseruan lain di We DO Village. We DO Village mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat. We DO Village terdiri dari We DO Good, We DO Health, We DO Good Food, We DO Pulse dan We DO Good for Papua.

We DO Good for Papua sangat menarik dengan diadakannya talk show dari anak muda Papua. Di mana para anak muda Papua ini berhasil dengan bisnisnya didukung oleh Prudential. Mereka adalah Paideia Gratia Sumhe (28 tahun) dengan usaha Gracy Curis, produk gel rambut untuk rambut keriting agar ketika rambut kering tidak mengembang, mudah diatur dan terdefinisikan. Yonece Yunita Ohee (24 tahun) dengan produk bakso kelapa di Pondok Butterfly Skyline. Adonan bakso dicampur dengan kelapa dan disajikan di dalam kelapa muda. Kemudian Yafeth Steven Wetipo (32 tahun) dengan usaha kopinya Highland Roastery. Yafeth terjun langsung membimbing para petani agar dapat mengolah kopi dengan aroma-aroma yang khas hingga siap untuk dijual.

Mereka merupakan pengusaha muda yang lolos dari program Pendidikan Kewirausahaan Kaum Muda untuk mendukung ekonomi kerakyataan di Indonesia. Ini pertama kalinya produk mereka dipamerkan di luar wilayah Papua.

“Prudential melihat potensi para anak muda ini agar membuat Papua lebih sejahtera. Bisnis yang berhasil adalah bisnis yang dapat memberdayakan masyarakat sekitarnya,” papar Rinaldi Mudahar, Country CEO, Community Investment Prudential Indonesia.

Banyak ilmu juga yang di dapat dari program ini, seperti yang diungkapkan oleh Yunita Ohee, “Sebelum ikut program ini saya tidak bisa mengatur keuangan dengan baik. Namun, setelah mengikuti program ini Puji Tuhan saya dapat membuat laporan keuangan dan akan membuka cabang lagi di Papua.”

Harapannya adalah masyarakat Papua dapat meningkatkan taraf ekonominya dan pemuda-pemudi Papua dapat termotivasi untuk membangun usaha mandiri dan memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Load More Related Articles
Load More By Sany Maya
Load More In Event