Home News Acara Mangayubagya 30 Sri Sultan HB X Menyasar Generasi Milenial Agar Tertarik Belajar Budaya

Acara Mangayubagya 30 Sri Sultan HB X Menyasar Generasi Milenial Agar Tertarik Belajar Budaya

5 menit waktu baca
38

Jumat, 8 Agustus 2019 Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan siaran pers untuk acara Mangayubagya 30 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hal ini berarti, Sri Sultan Hamengku Buwono X tercatat masuk ke dalam lima besar Sultan dengan periode takhta terpanjang.

Peringatan tersebut dilaksanakan berdasarkan kalender Jawa berupa upacara sugengan dan labuhan. Tahun ini akan digelar dua agenda besar. Simposium Internasional dan Pameran Naskah Keraton Yogyakarta pada tanggal 5 Maret hingga 7 April 2019.

Setelah dibuka oleh MC, sambutan pertama dilakukan oleh Gusti Bendara sebagai ketua panitia pameran. Beliau menjelaskan rangkaian acara apa saja yang akan digelar dalam rangka Mangayubagya 30 Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasar kalender Masehi.

Kraton Jogja

Agenda pertama adalah Simposium yang mengangkat tema “Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta”. Simposium yang akan berlangsung pada tanggal 5 dan 6 Maret 2019 di Grand Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel ini, diharapkan mampu menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung di dalam naskah-naskah lama.

Total 4 topik utama akan menjadi bahan diskusi Simposium yaitu, topik Sejarah dan Filologi, dilanjutkan hari kedua sesi Pertunjukan dan Sosial Budaya. Simposium ini terbuka untuk umum dengan mendaftar melalui symposium.keratonjogja.id.

Puncak acara adalah pameran Naskah Keraton Yogyakarta yang akan berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran. Bertemakan “Merangkai Jejak Peradaban Negari Ngayogyakarta Hadiningrat”, pameran akan dibuka pada tanggal 7 Maret 2019 pukul 9 pagi. Dihadiri oleh oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Menteri Pendidikan, serta Duta Besar Belanda dan Inggris.

Pengunjung hanya perlu membayar administrasi masuk ke Bangsal Pagelaran. Naskah-naskah fisik yang akan dipamerkan merupakan koleksi keraton warisan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Berbagai koleksi dari Bebadan Museum Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga turut dipamerkan. Selain pameran naskah dalam bentuk fisik, beberapa naskah yang diserahkan British Library akan ditampilkan dalam bentuk digital.

Pembicara selanjutnya adalah GKR Hayu, sebagai ketua panitia Simposium. Beliau juga menjelaskan pentingnya pameran yang akan dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar mengetahui nilai budaya dan sejarah dalam manuskrip.

GKR Hayu memberikan penjelasan singkat mengenai peristiwa Geger Sepehi yang mengakibatkan Keraton Yogyakarta kehilangan banyak naskah yang berisi berbagai ajaran leluhur. “Sayang sekali jika masyarakat tidak tahu mereka kehilangan apa.” tutur GKR Hayu.

Acara ini juga bertujuan untuk menarik minat generasi milenial untuk belajar budaya. “Ada missing link setelah Geger Sepehi, banyak naskah yang tidak terawat dan hilang. Jogja harus bangga karena memiliki banyak budaya dan tradisi.” ungkap GKR Hayu.

Kraton Jogja

Bapak Thomas Haryonagoro selaku kurator pameran dan pemilik Museum Ullen Sentalu menyatakan bahwa, “Peradaban adalah pencapaian tata nilai yang bermanfaat. Di Keraton dapat ditemukan jejak peradaban yang mengiringi kehidupan keraton sebagai living museum’’. Beliau juga mengungkapkan bahwa, menemukan masa lalu adalah bagian dari membentuk masa depan.

Disamping pameran, akan dibuka kelas kuratorial dan tur ruang pamer serta diskusi yang akan dipandu oleh akademisi dan komunitas. Saat ini Keraton ingin membuka diri kepada masyarakat luas dan berinovasi.

“Kenapa sekarang Keraton memiliki media sosial juga semata-mata untuk memberikan informasi yang sederhana tentang budaya. Terutama untuk anak muda agar materi budaya tidak membosankan. Kami juga ingin mengadakan road show ke universitas-universitas untuk memperkenalkan Simposium.” jawab GKR Hayu pada sesi tanya jawab siaran pers.

Harapan Beliau acara ini akan rutin diadakan setiap tahun juga akan ada penawaran naskah untuk diteliti. Mempelajari budaya jawa sama dengan mempelajari filosofi Hidup.

Muat Lagi Dari Kazebara
Muat Lebih Banyak Di News