71 Tahun Pertempuran Plataran, Badan Otorita Borobudur Dukung Selomartani Sebagai Wisata Sejarah

8 min read
0
59

Genpijogja.com – DIY, daerah yang terkenal akan wisata sejarah, kini bertambah satu lagi destinasi wisata sejarahnya, yaitu Monumen Perjuangan Taruna Yogyakarta atau yang lebih dikenal warga sebagai Monumen Plataran Selomartani, Sleman.

“Sleman memiliki akses langsung ke Borobudur dan Prambanan. Momentum 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran semakin menguatkan warna atraksi destinasi Borobudur. Experience wisatawan makin lengkap. Warna sejarah yang dimilikinya ikut menaikan daya tawar pariwisata di kawasan ini,” ungkap Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita.

Monumen Plataran Selomartani Kalasan
Monumen Plataran Selomartani Kalasan | Fotografer Jalu Tajam

Tema yang ditawarkan pada 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran yaitu Merajut Jejak Sang Ksatria Muda. Pemecahan kendi oleh Mabes TNI AD yang didampingi oleh tokoh masyarakat setempat, Jumat (21/2) menjadi simbol dibukanya acara. Selain Mabes TNI AD dan masyarakat lokal, bergabung juga pelajar, mahasiswa, hingga stakeholder pemerintahan setempat.

Rangkaian peringatan 71 tahun Pertempuran Plataran (1948-2020) dimulai sejak Jumat (21/2) di Hotel Horison Yogyakarta. Seminar yang terdiri dari 3 sesi ini membahas Operation Kraai VS Perintah Siasat No.1 Tahun 1948, Asymmetric Warfare in Central Java, 1947 – 1949 dan Assesment of Roles of The MA-Yogya Guerrilla Fighters Based on Dutch and Indonesia Document and Archives, dilanjutkan dengan kunjungan Ikatan Keluarga Akademi Militer (IKAM) Yogyakarta ke SMA BOPKRI 1 untuk meresmikan Ruang Memorabilia Akademi Militer Yogya.

Keesokannya Ikatan Keluarga Akademi Militer (IKAM) Yogyakarta berkunjung ke Akademi Militer Magelang. Pada kesempatan ini hadir juga Letjen (Purn) Sajidiman Surjohadiprodjo, alumnus Akademi Militer Yogya 1948 menjadi salah satu penanggap dalam diskusi Asymmetric Warfare in Central Java, 1947 – 1949 dengan pembicara utama Mr. Azarja Harmanny, MA dari Netherlands Institute of Military History.

“Peringatan ini sangat penting. Sebab, jadi bukti penghargaan terhadap sejarah. Selain itu, event ini juga menguatkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah yang harus dikunjungi,” ujar Penasehat Komunitas Historia 24249 Purbantara Surautama sekaligus Pembina 61 Bregada Rakyat se-DIY dan Jawa Tengah.

Monumen Plataran Selomartani Kalasan
Monumen Plataran Selomartani Kalasan | Fotografer Jalu Tajam

Warna sejarah ditawarkan melalui 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran, 21-24 Februari 2020. Acara yang digelar selama 4 (empat) hari ini tidak hanya sekadar napak tilas sejarah, namun juga diisi berbagai atraksi budaya, mulai dari Senam Massal hingga Pasar Rakyat dengan tajuk ‘Gelar Potensi Selomartani’.

“Sejarah harus terus dihidupkan. Nilai-nilainya wajib diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain jadi bentuk penghargaan, disitu juga ada inspirasi besar yang bisa menjadi bekal di masa mendatang. Saat ini experience inspirastif ditebarkan melalui 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran,” papar Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Kabinet Kerja Dwisuryo Indroyono Soesilo.

Merujuk pada catatan sejarah, Pertempuran Plataran terjadi pada 24 Februari 1949. Teraktualisasi melalui Monumen Plataran Selomartani, insiden tersebut berawal dari agresi militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948. Karena Ibukota RI di Yogyakarta dikuasai oleh Belanda, maka banyak pejuang yang menyingkir ke Sleman, Bantul dan Kulon Progo. Setelah mengetahui kantong kekuatan pejuang, Belanda pun menggelar operasi.

Untuk operasi Belanda di wilayah timur, Bogem (Kalasan), mengakibatkan gugurnya beberapa pejuang. Ada dua perwira remaja, lima taruna, satu anggota tentara pelajar dan warga masyarakat. Lokasi dari peristiwa itu lalu dibangun Monumen Plataran Selomartani pada tahun 1976 dan diresmikan tahun 1977. Pada monumen ini ada delapan patung taruna, dua buah joglo dan berbagai simbol.

“Monumen Plataran merupakan destinasi yang penting. Taruna Akmil masih berkunjung ke sana untuk ziarah dan karya bakti. Spot ini juga kerap menjadi lokasi event dan dikunjungi masyarakat. Sebab, nilai sejarahnya memang sangat kuat dan luar biasa. Kami yakin, perayaan 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran juga menjadi daya tarik bagi pariwisata di sana,” terang Indroyono.

Akademi Militer (MA) Yogya sendiri berdiri pada kurun 1945-1950 di ibukota perjuangan Yogyakarta dan menghasilkan tiga angkatan lulusan. Pada 11 November 1957, MA Yogya dibuka kembali sebagai Angkatan Keempat oleh Presiden Soekarno di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, yang saat ini dikenal sebagai Akademi Miiliter (Akmil).

Gubernur Akmil Magelang Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurahman menyampaikan bahwa nilai-nilai patriotisme dan kepahlawanan harus diwariskan. Melalui 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran ini, generasi muda bisa belajar banyak hal. Mereka bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan riil. Melalui beragam karya kreatif dan produktif untuk kemajuan Indonesia. Lebih lanjut, kawasan ini memang sangat potensial sebagai destinasi wisata.

Monumen Plataran Selomartani Kalasan
Monumen Plataran Selomartani Kalasan | Fotografer Jalu Tajam

Perhelatan ini semakin dikuatkan dengan digelarnya Ziarah Makam Pejuang – Tabur Bunga, Marching Band Canka Lokananta-Akmil RI, Upacara Bendera Peringatan 71 Tahun Pertempuran Plataran, Sesiodrama-Historia 24249 ‘Tapak Jejak Taruna’ dan Napak Tilas Pertempuran Plataran ‘Track Sepeda’ menyusuri jalur gerilya Akademi Militer Yogyakarta.

“Nilai perjuangan Pertempuran Plataran ini akan terus lestari. Event 71 Tahun Peringatan Pertempuran Plataran banyak melibatkan milenial sebagai pemegang tongkat ‘perjuangan’ berikutnya. Event ini juga menarik dengan beragam konten heroiknya. Jadi, jangan lewatkan puncak perayaannya,” tutup Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News