Home Heritage 10 Fakta Sejarah Tentang Lawang Sewu Yang Kamu Harus Tahu

10 Fakta Sejarah Tentang Lawang Sewu Yang Kamu Harus Tahu

9 min read
0
0
88

Tahukah Anda bahwa bangunan megah yang berlokasi di jalan Pemuda Kota Semarang ini pada masanya adalah kantor pusat dari sebuah perusahaan Hindia Belanda yang bergerak di bidang kereta api?

Bangunan yang saat ini lebih dikenal sebagai Lawang Sewu bukan hanya memiliki bentuk yang instagramable saja, tapi juga sederet fakta sejarah menarik yang harus kamu tahu. Ada baiknya, selain berfoto-foto di Lawang Sewu, kamu juga mengetahui sejarah Lawang Sewu dalam kerangka besar sejarah perkeretaapian di Nusantara.

Iyes. Kalau kamu anggota pasukan garis keras dari pecinta ular besi ini, wajib donk belajar sejarah kereta api secara utuh, tidak hanya sepotong-potong saja. Kali ini, Genpi Jogja mengumpulkan fakta sejarah dari berbagai sumber bagi kamu yang kesengsem belajar sejarah perkeretaapian di Nusantara, terutama Lawang Sewu.

20190324_161014

1. Nama Asli Lawang Sewu

Seperti yang kita ketahui, bahwa bangunan ini awalnya bernama Het Hoofdkantor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Bangunan megah yang memiliki banyak pintu ini oleh penduduk pribumi kemudian disebut Lawang Sewu hingga kini.

2. Lawang Sewu Milik Perusahaan Kereta Api Swasta Hindia Belanda

Zaman dahulu kala, Kereta Api meski termasuk transportasi publik tapi tidak dimonopoli oleh satu perusahaan saja lho. Contohnya saja, Lawang Sewu. Bangunan ini idirikan dan dimiliki oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, sebuah perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda. Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 1907.

3. Perusahaan Kereta Api Pertama di Nusantara Didirikan Tahun 1863

Perkembangan transportasi berbasis rel ketika itu berkembang dengan pesat dan tentunya menuntut sistem administrasi yang lebih komplek dan sebuah bangunan untuk mengumpulkan segala pekerjaan administrasinya menjadi satu. Itu sebabnya Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membangun Lawang Sewu.

Tapi perusahaan kereta api swasta ini berdiri jauh lebih lama sebelum kantornya dibangun, yaitu pada tanggal 27 Agustus 1863. Pada tahun-tahun berikutnya jaringan kereta api itu berkembang dengan pesat dan semakin besar.

4. Jalur Yogyakarta – Brosot (Kulonprogo) Dibangun Tahun 1893

Jogja memiliki posisi penting dalam sejarah perkeretaapian di Nusantara. Tahun 1893 Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membangun jalur Yogyakarta – Brosot (Kulon Progo), disusul jalur Yogyakarta – Ambarawa hingga Kedungjati lewat Magelang dan Secang. Dan yang terakhir dibangun jalur Gundih – Surabaya sepanjang 245 kilometer. Menarik sekali prestasi mereka dalam pembuatan jalur kereta api hingga sampai sekarang kita masih bisa melihat dan memakainya.

5. Arsitek Lawang Sewu Belum Pernah Sekalipun Datang ke Semarang

Tahukah kamu, kalau arsitek dari Lawang Sewu belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Semarang. Ajaib, ya?

Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag adalah 2 (dua) orang arsitek yang dipercaya oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membuat cetak biru dari bangunan Lawang Sewu. Semua hal dikerjakan di Amsterdam, Belanda berdasarkan riset.

Lantas bagaimana cara kerjanya? Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag membuat cetak biru Lawang Sewu hanya dari kiriman arsip gambaran-gambaran area yang akan didirikan bangunan Lawang Sewu. Kemudian sang arsitek merancang gambar cetak biru calon gedung kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij di Amsterdam, Belanda. Kebayang ya, level kecerdasan mereka. Padahal di era itu kan belum ada internet dan mbah google.

20190324_153211

6. Cetak Biru Bangunan Lawang Sewu Selesai Dibuat 1903

Cetak biru calon gedung kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij selesai dibuat tahun 1903. Begitu rancangan gambar selesai, langsung dikirim ke Semarang melalui jalan laut.Waktu itu, lalu lintas perdagangan dunia memang masih melalui laut. Cetak biru ini dibawa oleh kapal-kapal dagang ke pelabuhan Semarang.

Kemudian selang setahun setelah cetak biru selesai digambar, pembangunan gedung dimulai pada tahun 1904 tepatnya tanggal 27 Februari.

7. Lawang Sewu adalah Gedung Perkantoran

Bangunan Lawang Sewu ini memiliki berbagai pesona. Diawali dengan pesona keindahan arsitektur bangunan yang tampak megah dan kokoh. Meskipun bangunan ini nantinya akan digunakan sebagai kantor kereta api, oleh sang arsitek, bangunan Lawang Sewu ini tetap diperhatikan detail-detail seni arsitekturnya. Mulai dari muka bangunan, berbagai ornament di dinding bagian eksterior maupun interiornya, hingga pemasangan kaca patri yang sangat memukau.

Untuk bangunan yang berada di lantai satu dan lantai dua dari gedung ini terdapat banyak ruangan yang dipergunakan sebagai aktivitas perkantoran. Sedangkan di bagian atas di bawah atap terdapat plafon yang terbuat dari beton, fungsinya untuk menghalau panas dari cahaya matahari agar tidak langsung masuk ke dalam ruangan di bawahnya.

8. Instalasi Air di Bangunan Lawang Sewu

Untuk susunan struktur bangunan Lawang Sewu sudah disesuaikan dengan kondisi iklim di Semarang ketika itu. Bagian bawah tanah dari gedung sengaja dibangun instalasi air seperti kolam. Hal ini bertujuan agar air yang masuk dan keluar di instalasi tersebut membawa hawa sejuk untuk ruangan-ruangan yang berada di atasnya.

9. Tempat Pembelian Tiket Kereta Api Semarang – Surakarta – Yogyakarta

Selain mengakomodasi pada pekerja Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij dalam mengerjakan berbagai administrasi kantor. Kala itu, lobi Lawang Sewu juga melayani pembelian langsung dan pemesanan tiket kereta api jurusan Semarang – Surakarta – Yogyakarta. Kebayang ga sih, meneer dan noni-noni Belanda waktu itu antri beli tiket di Lawang Sewu?

10. Lukisan Kaca Patri

Pesona lainnya adalah 3 (tiga) buah lukisan kaca patri di dinding-dinding bangunan Lawang Sewu. Pembuatan kaca patri di gedung Lawang Sewu dibuat oleh seniman kaca asal Belanda bernama J.L. Schouten dari studio seni kaca T. Prinsenhof di kota Delf. Lukisan kaca patri ini hingga sekarang selalu menyedot perhatian pengunjung dan para photographer untuk mengambil gambarnya.

Jika saat ini kita berkunjung pada pagi atau siang hari, kaca patri ini akan lebih tampak indah dikarenakan cahaya yang masuk melalui warna dari lukisan kaca patri ini memiliki sensasi sendiri. Namun jika berkunjung pada petang dan malam hari maka sudah bermakna lain tentang kaca patri ini. Apa bedanya? Anda harus datang sendiri untuk menemukan bedanya.

Untuk memasuki kompleks Lawang Sewu yang dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pengunjung akan dikenakan tarif karcis sebesar Rp 10.000 per orang.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Heritage